background="image/bg.gif" leftmargin="0" topmargin="0">
Lontar Budhakcapi
Udayana University
Faculty of Letters
Preface
 
Home
Readme
Table of Contents
Preface
Lontar Budhakcapi
Bahasa Indonesia (Indonesian Language)

Pengantar

1. Identitas Lontar
a. Judul lontar : Budhakcapi
b. No. kode : Krop. 20 No. Rt. 173
c. Ukuran lontar : 42,5 cm x 3,5 cm
d. Jumlah lembaran : 78 lembar
e. Dimulai dengan kalimat : Oý awighamastu nama sidhaý. Sang tabe ya nama
f. Berakhir dengan kalimat : ... kedep sidi mandi mantranku.
g. Kronogram penulisan : 1882 Saka (11 April 1960)
h. Ditulis oleh : -
i. Pengarang : -
   
2. Isi Pokok

Dikisahkan seorang dukun sakti bernama Budhakcapi mendapat anugrah dari Hyang Nini Dalem ketika bertapa di kuburan tempat pembakaran mayat. Ia mengangkat dua orang murid, yaitu Sang Klimosadha dan sang Klimosadhi. Adapun sebab-sebab sang Klimosadha dan sang Klimosadhi berguru kepada Budhakcapi adalah karena mereka mendengar berita bahwa Budhakcapi merupakan dukun sakti tak terkalahkan oleh siapapun setelah Budhakcapi mendapat anugrah dari Hyang Nini dalem. Alasan lain adalah karena sang Klimosadha dan sang Klimosadhi sempat menanggung malu ketika mereka tidak mampu memberikan pengobatan kepada pasien. Selama berguru, sang Klimosadha dan sang Klimosadhi diajar mendeteksi gejala penyakit yang diderita oleh pasien. Di samping itu, mereka juga diberikan pengetahuan tentang hakikat filosofis obat dan penyakit, bahwa obat dan penyakit itu mempunyai sumber yang sama, yakni Sanghyang Tiga, yang terdiri atas Brahma, Wisnu, Iswara. Sanghyang Tiga (Brahma, Wisnu, Iswara) dapat mengubah dirinya menjadi penyakit atau juga dapat mengubah dirinya menjadi obat. Oleh karena itu, jenis penyakit ada tiga macam, yaitu penyakit-penyakit panas sebagai sihiran Brahma, penyakit-penyakit dingin sebagai sihiran Wisnu, dan penyakit-penyakit hangat sebagai sihiran Iswara. Demikian pula obat penawar itu ada tiga macam, yaitu obat yang berkhasiat panas sebagai ciptaan Brahma, obat yang berkhasiat dingin sebagai ciptaan Wisnu, dan obat yang berkhasiat sejuk sebagai ciptaan Iswara. Kecuali itu, sang Klimosadha dan sang Klimosadhi juga mempelajari mantera-mantera pengobatan serta jenis-jenis ramuan obat untuk berbagai jenis penyakit.

 

3. Teknik penyajian dan cara membaca lontar Budhakcapi

3.1 Teknik penyajian

Tampilan paling atas adalah naskah lontar Budhakcapi yang berhuruf Bali menggunakan bahasa Kawi. Di bawahnya adalah teks Budhakcapi berhuruf Latin, berbahasa Kawi sebagai hasil transliterasi naskah lontar di atasnya. Selanjutnya, adalah teks Budhakcapi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Paling bawah adalah teks Budhakcapi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

 

3.2 Cara membaca lontar Budhakcapi

Setiap halaman lontar dibagi menjadi dua sisi, yaitu sisi kiri dan sisi kanan. Setiap sisi pada masing-masing halaman lontar Budhakcapi terdiri atas empat baris kalimat. Oleh karena itu, cara membacanya adalah dimulai dari halaman pertama (1b) baris pertama pada sisi kiri naskah menuju ke baris pertama sisi kanan naskah, diteruskan ke baris kedua sisi kiri naskah, lanjut ke baris kedua sisi kanan naskah, dan seterusnya hingga berakhir pada baris keempat sisi kanan naskah. Lanjutkan ke halaman dua (2a) baris pertama sisi kiri naskah, terus ke baris pertama sisi kanan naskah, dan seterusnya hingga berakhir pada akhir baris keempat sisi kanan naskah. Lanjutkan ke halaman-halaman berikutnya dengan langkah yang sama.

 

English

Preface

1. The Identity of the Lontar

a. The title of the lontar : Budhakcapi
b. Code Number : Krop. 20 No. Rt. 173
c. The Size of lontar : 42,5 cm x 3,5 cm
d. Numbers : 78 lembar
e. Started with the utterance : Oý awighamastu nama sidhaý. Sang tabe ya nama
f. Ended with the utterance : ... kedep sidi mandi mantranku.
g. Written on : 1882 Saka (11 April 1960)
h. Written by : -
i. Author : -
   
2. Content

It was said in the story that there was a powerful healer called Budhakcapi who had a gift from Hyang Nini Dalem while he was meditating in the place of cremation in a graveyard. To fulfil the wish of both Klimosadha and Klimosadhi, Budhakcapi made them his two students. The reason why those two wanted to be his students was that they heard that Budhakcapi was a very powerful healer who was undefeatable after he had a gift from Hyang Nini Dalem. Another reason was that both Klimosadha and Klimosadhi felt embarrased after they failed in healing their patients. In the process of learning, both Klimosadha and Klimosadhi were taught about how to detect the symptoms of diseases suffered by people. They were also taught about the essence of the philosophy of cures and diseases, about the fact that both cures and diseases had similar source, that was Sanghyang Tiga, consisting of Brahma, Wisnu, Iswara. Sanghyang Tiga could transform themselves into either diseases or cures. That was why there were three kinds of diseases which are called hot diseases caused by Brahma, cold diseases caused by Wisnu and warm diseases caused by Iswara. Similarly, there were also three kinds of cures which were the cures with hot effects as the creation of Brahma, the cures with cold effects as the creation of Wisnu and the cures with the warm effects as the creation of Iswara. During that learning time, Klimosadha and Klimosadhi also learned the healing charms and the kinds of medical ingredients for any kind of disease.

 

3. The Technique of Presenting and the Way of Reading the Lontar

3.1 The Technique of Presenting the Lontar

At the uppermost appearance, the lontar of Budhakcapi with Balinese script in Kawi language is shown. Below it, is the lontar Budhakcapi with Latin script, still in Kawi language as the result of transliteration of the above text. Below it, is the text of Budhakcapi which is already tranlated into Indonesian language followed, in the lowest appearance, by the English translation.

 

3.2 The Way of Reading the Lontar

Each page of the lontar is divided into two, that are on the left and right sides. Each of the sides consists of four lines of sentences. The way of reading it is to start from the first page (1b) the first line on the left to the first line on the right of the text. And then, the reading goes to the second line on the left to the second line on the right. It keeps on like that until the four lines of the first page are read. Then the reader should move to the second page (2a), and do exactly the same procedures.